Kamis, 07 Februari 2013

The Diary (part 3)


                KRIIING!!!
                “Baik, karena tidak ada pertanyaan lagi, saya tutup pelajaran hari ini. Jangan lupa kerjakan PR yang saya berikan, latihan halaman 83 sampai 86. Sekian, selamat siang!” Pak Suryo melangkah keluar dari kelas. Dalam sekejap suasana kelas yang semula sepi langsung berubah menjadi ramai layaknya pasar.
                Sebagian besar anak perempuan bergosip di pojokan kelas. Sebagian besar anak laki-laki membuka kemeja mereka dan buru-buru memakai kaos dan segera lari ke lapangan. Kumpulan anak-anak pintar yang berkacamata berkumpul dan berdiskusi mengenai ulangan sejarah kemarin. Awalnya aku diajak oleh kumpulan anak-anak berkacamata itu, tapi aku menolak karena ingin cepat-cepat pulang. Aku juga sempat diajak oleh anak-anak perempuan yang bergosip di pojokan kelas, itu juga kutolak. Aku benar-benar ingin pulang.
                Aku segera membereskan tasku dan segera keluar kelas. Ketika aku melewati lapangan sepak bola, seseorang mencegatku.
                “Danny?” tanyaku bingung, sekaligus senang. “Ada apa?”
                “Boleh minta nomor handphone-mu?” tanyanya tanpa basa-basi.
                “Untuk apa?” tanyaku heran.
                “Kita satu kelompok dalam tugas buku harian,” jawabnya. “Akan sulit jika kita tidak bisa saling berkomunikasi, aku butuh nomor handphone-mu agar bisa menghubungimu kapan saja.”
                Aku mengangkat bahu lalu mengambil handphone-ku dari dalam saku kemeja. “Sebutkan saja nomormu.”
                Danny menyebutkan nomor handphone-nya.
                Aku menekan tombol call dan tiba-tiba saja bunyi musik rock atau apalah itu mengalun dari saku celana Danny. Danny buru-buru mengambil handphone-nya dan menekan tombol accept. “Halo?” katanya.
                “Itu aku, Dann,” ujarku sambil menekan tombol cancel. “Itu nomorku, aku pulang sekarang,” dan tanpa menunggu balasan perkataannya, aku pergi. Aku yakin sebenarnya dia masih benci padaku. Jujur saja, aku tidak tahu apa yang ia benci dariku.
                “Oh, astaga,” desah Danny sambil memasukkan handphone-nya ke saku.
                Aku hanya tertawa kecil melihat tingkahnya dari jauh.
                Kau memang unik, Danny...

*

                “Bagaimana mengisinya, ya?” pikirku sambil memutar-mutar pulpen. Kebiasaanku kalau sedang tidak dapat ide untuk menulis atau menggambar.
                Aku mengetukkan jari tanganku ke meja. Masih kebingungan. Bagaimana harusnya aku mengisi buku harian ini? Haruskah kutulis dear Danny? Tapi rasanya tidak. Kalau tidak menyebutkan namanya akan terasa aneh. Aku bingung. Akhirnya aku memutuskan untuk berbaring sesaat.
                Mungkin tulis namanya saja, pikirku. Akhirnya aku duduk kembali di kursi meja belajar dan segera menulis. Hasilnya memang hanya dua paragraf, tapi setidaknya ada hasilnya.

                Rabu, 15 Agustus 2010

                Danny...
                Menurutku, hari ini tidak begitu menyenangkan karena kelihatannya si “dia” benci sekali padaku. Bukannya sok tahu atau apa, tapi memang kenyataannya begitu. Banyak orang yang sering berbisik dan bilang “dia benci Giena” atau semacamnya. Seharusnya aku tidak peduli. Ya, aku memang berusaha tidak peduli.
                Lupakan tentang aku, bagaimana denganmu? Apa kau punya seorang “dia” di hatimu? Hahaha, aku tidak memaksa, kalau tidak mau cerita juga tidak apa-apa. Tapi kalau kau mau bercerita aku merasa terhormat, bisa dibilang artinya kau percaya padaku.
                Sudah ya...
                -Giena-

                Aku tersenyum kecil lalu memasukkan buku harian itu ke dalam tas. Besok aku akan memberikannya pada Danny. Kemudian aku mengiriminya pesan.

To: Danny

Aku sudah selesai mengisinya, hanya dua paragraf. Kau mau mengisinya seberapa panjang?

*

Travel Writer (part 2)


                Venla pertama kali bertemu dengan Kevin ketika mereka SMA. Saat itu Venla belum mengenal Kevin. Bagaimana tidak? Venla adalah salah satu remaja perempuan terpopuler di sekolah yang aktif dalam berbagai kegiatan OSIS serta memiliki otak encer dan wajah menarik. Sedangkan Kevin adalah seorang remaja laki-laki yang berotak encer tapi kurang pergaulan. Venla baru mengenalnya saat mereka kelas XI. Saat itu ia terpaksa pulang terlambat karena rapat OSIS yang begitu menguras waktu. Sesampainya di kelas ia melihat seorang laki-laki yang duduk sambil membaca buku tebal. Venla mengangkat alis. Ia tidak menyangka dapat menemukan seseorang di sekolah pada pukul enam sore begini. Padahal sekolah mereka sudah bubar sejak empat jam yang lalu.
                “Sedang apa kau di sini?” tanya Venla setengah berteriak. Dia memang tidak mengenal laki-laki itu tapi rasa penasarannya tidak dapat ditahan.
                Anak laki-laki itu tidak menjawab.
                “Hei!” seru Venla. “Aku bicara padamu!” Venla menepuk pundak laki-laki itu.
                “Kau bicara padaku?” tanya laki-laki itu.
                “Tentu saja! Kau pikir siapa lagi? Tidak ada orang lain di sini,” jawab Venla agak kesal.
                “Oh,” laki-laki itu memandang berkeliling. “Kau tanya apa tadi?”
                “Sedang apa kau di sini pada jam sekarang?” ulang Venla. “Kau tahu, sekolah sudah bubar empat jam yang lalu.”
                “Kau sendiri sedang apa?” laki-laki itu balik bertanya.
                “Begini,” Venla menarik nafas. “Kau tahu aku siapa?”
                “Venla, anak OSIS, ranking satu di XI-3, paling populer di sekolah. Ada yang kurang atau salah?”
                Venla mengangkat alis. Tidak menyangka laki-laki ini mengenalinya. “Kita... sekelas?”
                “Sudah kuduga kau tidak mengenaliku,” laki-laki itu tersenyum. “Ya, aku ranking dua di XI-3, mungkin kau tahu?”
                “Maaf, aku tidak begitu mengenali anak-anak sekelas kecuali sesama OSIS atau dia populer,” Venla memiringkan kepalanya. “Kau bukan keduanya, ya?”
                Laki-laki itu mengangguk singkat. “Namaku Kevin.”
                “Senang berkenalan denganmu,” Venla mengulurkan tangannya yang disambut dengan uluran tangan Kevin. “Ehm, kau tidak pulang?”
                Kevin mengangkat bahu. “Aku dapat pulang kapan saja, orang tuaku tidak peduli,” jawabnya. “Sebenarnya aku menunggu.”
                “Menunggu siapa?” tanya Venla heran.
                “Menunggu seseorang yang sudah pasti tidak dijemput dan pulang terlambat akibat rapat OSIS,” jawab Kevin misterius. “Oh, dan dia perempuan.”
                “Jangan bilang kau menyindirku,” ujar Venla cepat sambil bersedekap.
                “Aku tidak menyindirmu,” Kevin tersenyum. “Kau kedinginan? Lebih baik cepat pulang. Mau kuantar? Aku tidak akan menculikmu, kok.”
                Venla heran kenapa Kevin seakan dapat membaca pikirannya. “Terserah saja, asal kau benar-benar membawaku pulang.”
                “Tidak masalah,” Kevin mengangkat bahu. “Oh, karena kau kedinginan, pakai saja ini dulu.”
                Venla tersenyum menerima jaket yang dipinjamkan Kevin. “Terima kasih.”
                “Ya,” Kevin mengangguk. “Ayo.”
                Venla mengangguk dan mengikuti Kevin yang berjalan keluar kelas.

*

                Setelah Kevin mengantarnya pulang, mereka jadi lebih akrab. Ketika dua minggu sudah berlalu, Venla tidak melihat Kevin di kelas. Ia menggaruk kepalanya. Ia ingin tahu kemana Kevin tapi tidak tahu siapa yang dapat ditanya. Ia tidak tahu siapa teman dekat Kevin karena tidak pernah mau berurusan dengan orang-orang yang tidak populer. Tapi kali ini dia menyesali keputusannya.
                Rupanya ia salah. Kevin ada di kelas hari ini. Hanya saja dia tidak ikut mengobrol dengan yang lain. Dia sibuk membaca buku tebal yang sama seperti waktu itu. Bahkan ia tidak menyadari ketika Venla menghampirinya.
                “Baca apa?” tanya Venla sambil duduk di samping Kevin.
                Kevin terlonjak dan menutup bukunya. “Eh? Venla?” ia terbatuk. “Tidak sedang apa-apa.”
                Venla terkikik melihat kegegabahan Kevin. “Aku tidak buta, tahu,” ujarnya. “Aku lihat kau sedang membaca buku itu. Kau bahkan tidak menyadari kedatanganku, kan?”
                Kevin terbatuk lalu diam.
                “Hei, aku hanya ingin tahu,” ucap Venla. “Aku tidak akan menertawaimu.”
                Kevin menghela nafas lalu menyenderkan kepalanya ke sandaran kursi. “Aku...,” Kevin diam sejenak. “Sebenarnya bercita-cita menjadi travel writer.
                Venla mengangkat alis. Tidak merasa ada yang lucu pada percakapan ini.
                “Walau aku tahu,” Kevin tertawa getir. “Kalau aku payah soal menulis.”
                “Menulis?” Venla mengangkat alis. Kali ini dia benar-benar bingung karena tidak tahu apa itu travel writer.
                “Kau tidak tahu apa itu travel writer?” Kevin terlihat kaget.
                Venla menggeleng pelan.
                Kevin menghela nafas. “Travel writer itu fotografer yang menulis. Mengerti? Jadi tulisannya dapat dimuat di koran maupun majalah. Terserah fotografer itu.”
                Venla terpekur sejenak. “Ok, aku mengerti.”
                “Tapi...,” Kevin tampak berpikir. “Kurasa aku tidak dapat menjadi travel writer, kau tahu? Aku hanya bagus dalam memotret, tidak pada menulis.”
                “Ooh,” Venla mengangguk paham. “Tapi kurasa tidak ada salahnya mengejar cita-citamu itu. Aku yakin kau bisa menggapainya.”
                “Bagaimana bisa?” Kevin mengangkat alis. “Berapa tahun pun aku belajar, hasil tulisanku tetap buruk.”
                “Aku bisa menulis,” ucap Venla tanpa sadar.
                “Apa maksudmu?” tanya Kevin.
                “Yah,” Venla mengangkat bahu. “Kau tahu aku tidak buruk-buruk amat dalam menulis, bagaimana kalau kau travel dan aku writer-nya?” kemudian ia tertawa.
                “Kau tahu, itu usul yang tidak buruk,” Kevin tersenyum lalu tertawa. “Berjanji saja padaku kau akan benar-benar menjadi writer-ku kelak.”
                Venla mengangkat alis. “Janji,” jawabnya sambil mengacungkan jari kelingking. Kevin tersenyum kemudian mengaitkan jari kelingkingnya di jari kelingking Venla. “Janji jari kelingking,” ujar mereka bersama. Lalu mereka tertawa.

*

Luna's Diary (part 2)


                Hai, namaku Luna. Luna Greyson. Umurku saat ini 13 tahun. Aku lahir dan besar di Elvestone, sebuah desa kecil di pinggiran kota. Walau sekarang aku tinggal di Rickisburg, aku tidak pernah melupakan kampung halamanku itu. Aku tinggal bersama keluargaku, hanya keluarga kecil, yang terdiri dari Ayah, Ibu, dan kedua saudara laki-lakiku.
                Aku bukan anak sulung, tapi juga bukan anak bungsu. Aku anak kedua dari tiga bersaudara. Kakakku, Rudolf Greyson, berumur 18 tahun dan baru saja memasuki bulan kelimanya di universitas. Rudolf hobi olahraga. Basket, sepak bola, renang, tenis, bulu tangkis, bersepeda, dan lari, ia menguasai semuanya. Rudolf juga jago bela diri dan dia selalu melindungiku dan Arnold ketika kami diganggu seseorang. Rudolf juga hobi musik—walau hanya bass yang dikuasainya—dan teknologi. Ia suka menghabiskan waktu berjam-jam jika berhadapan dengan komputer. Maka tidak heran bila dia memilih masuk jurusan teknologi. Aku justru heran kalau dia tidak memilih teknologi. Oh, dua hal lagi, Rudolf jago menggambar. Nilai-nilai Rudolf memang tidak begitu memuaskan Ayah dan Ibu, tapi setidaknya cukup untuk lulus sejauh ini.
                Sementara adikku, Arnold Greyson, umurnya masih 11 tahun dan dia masih harus menyelesaikan tahun terakhirnya di elementary school. Arnold tidak begitu hobi olahraga layaknya Rudolf. Arnold hanya suka bersepeda dan lari. Ia memang tipe anak yang kutu buku—bahkan ia sudah memakai kacamata sejak umur sembilan tahun—. Di dalam kamarnya ada banyak buku, mengenai apa pun. Arnold suka membaca apa saja. Mulai dari buku-buku fiksi macam komik dan novel—aku heran kenapa anak laki-laki yang satu ini suka membaca novel—sampai buku-buku ilmu pengetahuan macam ensiklopedia dan kamus-kamus tebal. Semua ada di dalam kamarnya. Buku-buku pelajaran dan latihan soal dari sejak dia baru masuk elementary school sampai sekarang masih ada. Bahkan dia membeli buku pelajaran dan latihan soal untuk middle school dan menyimpannya untuk nanti.
                Selain gila buku, dia juga gila film. Dia menyimpan koleksi film di kamarnya. Memang tidak begitu banyak, tapi cukup untuk membuktikkan bahwa Arnold adalah pemerhati film. Dia punya film segala genre mulai dari komedi, anak-anak, horor, dan action. Oh, dia tidak punya film roman karena dia memang tidak suka.
                Untuk ukuran anak umur 11 tahun, Arnold bisa dibilang jenius. Nilai-nilainya yang sempurna mengisi rapor dan dia selalu menyabot gelar juara tiap tahun. Ah, Arnold juga senang mendengarkan musik. Dia memang tidak bisa memainkan alat musik, tapi dia suka mendengarkan Rudolf bermain bass atau aku bermain gitar sambil bernyanyi. Ah, dia juga suka mendengar permainan piano Ayah. Tapi dia tidak pernah punya keinginan untuk belajar musik. Satu lagi, dia hobi bermain catur tiap hari Minggu bersama aku atau Rudolf.
                Mengenai Ayah dan Ibu, tidak ada yang begitu spesial. Ayahku seorang pengusaha yang lumayan disibukkan dengan urusan-urusan kantor sedangkan Ibu membuka toko roti di rumah. Jadi beliau bisa memantau kami setiap hari. Kalau pelanggan toko Ibu sedang banyak, biasanya aku, Arnold, dan Rudolf ikut membantunya dan Ibu akan memberi kami uang lima dollar sebagai upah.
                Oya, tentangku.
                Aku tidak begitu spesial, yah, tidak seistimewa Rudolf dan Arnold maksudku. Kalau Rudolf menguasai hampir seluruh cabang olahraga dan Arnold menguasai hampir seluruh mata pelajaran di sekolah, aku bisa dibilang cukup menguasai dunia seni dan sastra. Aku suka memotret, bermain gitar, bernyanyi, melukis, menulis puisi, dan membaca. Aku tahu aku ini pemula dalam soal fotografi, tapi setidaknya aku masih tahu cara memotret yang benar dan hasil potretku tidak pernah asal.
                Kedua kegiatan itu, bermain gitar dan bernyanyi, biasanya kugabungkan menjadi satu. Jujur saja aku tidak biasa bernyanyi tanpa gitar. Seakan-akan ada yang kurang atau... salah. Tapi aku juga tidak begitu menguasai gitar dengan baik. Bernyanyi? Aku hanya asal bernyanyi karena aku tidak tahu teknik vokal yang benar.
                Melukis. Hmm... aku suka melukis sesuatu yang memberiku inspirasi. Atau kadang aku hanya asal coret dan tiba-tiba terpikirlah sesuatu untuk digambar. Aku tidak begitu berbakat. Gambar Rudolf masih lebih bagus daripada gambarku, tapi aku memang tidak berniat menekuni dunia ini. Bagiku, bisa menggambar saja sudah cukup bagus.
                Menulis puisi dan membaca. Mm... dua hal ini tidak bisa dibilang berhubungan, tapi biasanya aku membuat puisi setelah membaca sesuatu dan aku terinspirasi. Atau aku membuat puisi ketika sedang memandangi sesuatu yang bisa dibilang jarang diperhatikan atau dipedulikan orang. Kalau membaca, aku suka membaca apa pun. Komik, novel, dan ensiklopedia. Tapi berbeda urusannya ketika aku harus membaca buku pelajaran. Walau bisa dibilang mirip dengan ensiklopedia, aku tetap tidak suka membaca buku pelajaran. Ah, kecuali kalau buku pelajaran itu diubah ke dalam bentuk komik.
                Menurutku keluargaku ini unik. Ada seorang Ayah yang sibuk bekerja tapi tidak lupa untuk menghabiskan waktu bersama keluarganya. Oh, satu lagi, Ayah jago sekali bermain piano. Beliau bisa menghabiskan waktu berjam-jam jika sudah bersama dengan piano kesayangannya yang ditaruh di ruang keluarga. Dan jika Ayah sudah memainkan pianonya, kami sekeluarga biasanya ikut berkumpul. Aku mengikuti permainan piano Ayah dengan gitarku sementara Ibu, Rudolf, dan Arnold duduk di sofa sambil mendengarkan permainan kami. Jika Ayah sudah terlalu lama bermain, biasanya aku tertidur di atas karpet sambil memeluk gitar, Ibu tidur menyamping di sofa, Arnold tidur di karpet dalam posisi telentang sedangkan Rudolf tidur dalam posisi duduk di sofa. Ayah sendiri masih sibuk bermain piano tanpa menyadari bahwa istri dan anak-anaknya sudah tertidur pulas dalam berbagai pose. Hahaha.

*

Minggu, 03 Februari 2013

Books and Camera... (part 2)


                “Saara, kau boleh baca dulu artikel yang sudah di-edit oleh editor terdahulu,” ujar Olga sambil memberikan beberapa lembar kertas padaku. “Baca saja berulang-ulang.”
                Aku mengangguk dan menerima lembaran artikel dari Olga. Setelah dia meninggalkanku sendiri di ruang rapat Tim Mading, aku mulai membaca artikel-artikel itu. Artikel ini sangat menarik dan membuat pembacanya ingin membacanya lagi dan lagi. Si penulis memakai bahasa yang mudah dimengerti dan tidak memusingkan. Karena terlalu asyik membaca, aku bahkan tidak menyadari seseorang berdiri di belakangku sambil memerhatikan pekerjaanku.
                “Sedang apa?”
                Aku menoleh. Rupanya Leevi.
                “Baca artikel lama, aku editor baru jadi harus belajar,” jawabku sambil kembali membaca.
                “Ooh,” Leevi manggut-manggut.
                “Kau mau kemana?” tanyaku ketika melihat tas besar yang ditenteng Leevi.
                “Ke Ruka, hari ini juga,” jawab Leevi. “Bersama Iiro dan Olga sepertinya.”
                “Kapan kalian pulang?”
                “Besok atau lusa.”
                Aku manggut-manggut. “Hei, aku minta nomor semua anggota, boleh?”
                “Ini,” Leevi memberikan handphone-nya. “Tapi aku tidak punya nomor Iiro.”
                “Tak apa.”

*

                “Ini artikelnya, Saara,” ucap Kai. “Cepat edit, ya. Aku mau dua hari lagi sudah selesai.”
                Aku membelalak melihat artikel Kai. “Kai, ini tidak terlalu banyak? Bukankah kata Olga—“
                “Aku tahu,” potong Kai ketus. “Kau saja yang perbaiki, aku tidak bisa.”
                Aku menatapnya dengan sinis tapi dia sudah berjalan pergi. Kadang menjadi anak paling muda itu menyebalkan. Selalu disuruh. Yang lebih senior di sini tidak menghargai atau sekedar mendengarkan perkataanku. Menyebalkan sekali.
                Aku mendesah. Olga, Leevi, dan Iiro rencananya akan pulang besok. Aku tidak sabar ingin melihat hasil potretan Iiro serta artikel buatan Leevi. Tiba-tiba aku merasa rindu pada ketiga orang itu. Mereka adalah satu-satunya temanku di Tim Mading. Terutama Iiro.
                Mendadak aku teringat kejadian di ruang komputer tadi pagi. Kamera SLR itu... aku bahkan tidak tahu itu milik siapa, tapi firasatku mengatakan bahwa itu milik Iiro. Entah apa yang membuatku berpikir begitu. Melihatnya bersikap protektif terhadap kamera itu membuatku berpikir bahwa ia tidak mau foto-foto itu dilihat. Biasanya orang yang bersikap seperti itu menjaga barang miliknya.
                Aku mendesah. Selama mereka bertiga pergi aku tidak punya teman. Keempat lelaki yang ada di sini tampaknya tidak mau bercakap-cakap denganku. Sedangkan kedua perempuan itu kelihatannya lebih suka bergosip bersama daripada mengobrol bersamaku.
                Aku menghembuskan napas panjang. Semoga saja mereka bertiga cepat kembali dari Ruka dan segera masuk sekolah. Aku benar-benar tidak tahan berada di ruang mading bersama keenam orang itu.

To: 0800240924

Apa ini Iiro? Sedang apa di ruka? Bagaimana disana? -Saara

*

The Diary (part 2)


                Bel berbunyi.
                Aku duduk di kursi dalam diam. Yang kulakukan sedari tadi hanya membaca novel favoritku sembari menunggu bel masuk berbunyi. Karena bel sudah berbunyi, ada baiknya aku segera menyiapkan buku paket Bahasa Indonesia beserta buku tulisnya. Tidak ada satu orang murid pun yang mau dimarahi Bu Ratya yang galaknya melebihi kepala sekolah.
                Murid-murid yang tadi ada di luar berlarian masuk ke dalam kelas. Kami semua tahu kebiasaan Bu Ratya; sampai di kelas pukul tujuh lewat lima dan tidak ada murid yang boleh datang setelahnya. Untungnya, Bu Ratya masih memberi toleransi untuk murid yang datang bersamaan dengannya.
                Bu Ratya adalah guru Bahasa Indonesia yang baru mengajar di sekolah kami selama dua tahun. Tapi semua murid takut padanya, melebihi rasa takut kami pada Pak Min, guru Matematika yang sudah mengajar di sekolah ini sejak awal berdirinya. Tapi, tumben-tumbennya hari ini Bu Ratya datang ke kelas dengan senyuman lebar dan langkah santai. Padahal biasanya beliau selalu memasang wajah seram dan langkahnya terburu-buru.
                “Selamat pagi, anak-anak!” sapa Bu Ratya.
                “Pagi, Bu!” balas para murid.
                “Hari ini kita akan belajar tentang buku harian!” Bu Ratya memulai. Beliau menulis ‘buku harian’ di papan tulis dengan huruf kapital. “Ibu baru saja diberi tahu hal yang menarik sekali oleh kepala sekolah, tugas akhir tahun Bahasa Indonesia kalian berhubungan dengan buku harian,” jelas Bu Ratya. “Tugasnya adalah tukar menukar buku harian. Jadi... ibu akan bagi kelompok! Satu kelompok dua orang dan masing-masing kelompok memegang satu buku harian. Kalian harus mengisi buku harian secara berselang. Misalnya Onia berkelompok dengan Tirta, lalu Onia yang mengisinya lebih dulu, misalnya... ‘hari ini aku bangun pagi sekali, bagaimana denganmu?’ lalu Tirta membalas, ‘ah, aku bangun siang hari ini’ dan seterusnya. Paham?”
                Semua murid mengangguk. Aku melirik ke barisan belakang. Para murid perempuan tampak sangat antusias dengan tugas ini. Tentu saja, sebagian besar perempuan suka menulis di buku harian. Termasuk aku.
                “Baik, ibu akan bagi kelompoknya sekarang,” Bu Ratya membuka daftar absen. “Ibu bagi kelompoknya secara acak, perempuan dan laki-laki akan digabung.”
                Terdengar keluhan dari sebagian besar murid di kelas.
                Bu Ratya mengangkat sebelah tangan dan seperti sulap, semua murid terdiam. “Ibu tidak peduli apa komentar kalian,” ujar Bu Ratya tegas. “Ini tugas, ibu hanya ingin membuat kalian lebih mengenal satu sama lain. Lagipula jumlahnya pas, dua puluh perempuan dan dua puluh laki-laki.”
                Murid-murid hanya mengangguk pasrah.
                “Baiklah,” Bu Ratya mulai membaca daftar absen. “Onia dengan Chandra, Tirta dengan Runa, Cici dengan Farid, Zia dengan Sayid, Bintang dengan Vanya, Puput dengan Hafidz....”
                Bu Ratya terus menyebut nama murid-murid tapi beliau belum juga menyebut namaku.
                “Terakhir,” Bu Ratya menghela nafas. “Giena dengan Danny.”
                Aku membelalak. Danny? Sungguhan, nih?
                Terdengar suara cekikikan dari sudut kiri belakang. Aku menoleh ke belakang dan melihat ketiga teman Danny sedang menertawainya. Danny memasang raut wajah sebal. Ah, aku tahu apa yang membuatnya begitu.
                “Tolong bergabung dengan anggota kelompoknya,” ujar Bu Ratya.
                Baru saja aku mengambil pensil dan hendak berdiri, Danny sudah duduk di kursi sebelahku. Dia berkata dengan nada dingin, “Kalau disuruh, nanti kamu yang ambil bukunya dan kamu yang isi duluan.”
                Aku mengangkat alis lalu mengangguk pelan.
                “Perwakilan dari tiap kelompok, ambil satu buku yang ada di sini!” seru Bu Ratya.
                Aku beranjak dari kursi lalu mengambil salah satu buku yang tersedia di atas meja guru. Hanya sebuah buku tulis biasa, sampulnya berwarna biru pastel. Polos. Tidak ada gambar apa pun. Kurasa Bu Ratya mengerti bahwa warna biru adalah warna netral bagi laki-laki dan perempuan.
                “Baik!” Bu Ratya menepuk tangannya. “Ibu akan berikan temanya sekarang!” Bu Ratya menunduk lalu kembali berseru. “Temanya adalah ‘orang yang disuka’!”
                Sebagian besar anak membelalak. Kelas mulai gaduh.
                “Tenang, anak-anak!” seru Bu Ratya. “Tentu saja ibu tidak akan memaksa kalian, nah, begini, temanya tetap ‘orang yang disuka’, hanya saja kalian tidak perlu menyebutkan nama orang tersebut. Bagaimana?”
                “Aku tidak mengerti, bu!” Vanya mengangkat tangannya.
                “Begini,” Bu Ratya berdeham. “Misalnya, si A menyukai si B, misalnya si B menyapa si A di pagi hari, si A bisa menulis di buku hariannya ‘hari ini dia menyapaku, aku senang sekali’. Nah, seperti itu! Kalian hanya perlu menulis ‘dia’ dan bukan nama aslinya, bagaimana?”
                Sebagian besar murid mengangguk. Begitu pula aku.
                “Baiklah, kalau begitu kalian bisa mulai dari hari ini,” Bu Ratya tersenyum. “Perempuan yang harus mengisi buku hariannya terlebih dulu.”
                Aku mengangkat alis. Kebetulan sekali, perintah Bu Ratya dan Danny sama.
                “Baiklah, kita akan memulai pelajaran hari ini.”

*